Cerpen

 OBSESI



Eri perlahan membuka mata kemudian meraba bangku disebelah ranjang--berusaha mematikan jam beker yang membangunkannya. Jam baru menunjukkan pukul 03.30 WIB tapi ia terpaksa
harus mengayunkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci baju. Sudah hampir 7 bulan Eri melakukan kegiatan yang melelahkan ini, dari mencuci, mengepel, memasak hingga memotong rumput halaman rumah. Sejak Eri menumpang di rumah Siska–kakak tirinya yang berprofesi sebagai artis yang sedang naik daun di Jakarta –waktunya terasa sangat cepat berlalu.
Matahari masih malu-malu keluar dari tempat persembunyiannya, namun Eri sudah
menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Tanpa menunggu aba-aba semua barang untuk keperluan Siska sudah ia masukkan ke dalam bagasi mobil.
“Semua udah siap kan Ri? Baju yang nanti buat show udah kamu masukin semua kan ke mobil?” Siska bertanya sambil menikmati sarapannya.
“Iya Kak, sudah beres semua” jawab Eri tanpa mengalihkan sedetik pun pandangannya dari roti yang sedang disantap Siska. Pagi Ini Eri tidak sempat sarapan lagi.
***
Angin yang berhembus lembut memainkan rambut Eri yang dibiarkannya terurai. Segerombolan burung yang asyik bermain diatas dahan pun tak membuat perhatiannya beralih. Mata indah Eri menerawang jauh ke depan. “Malang betul nasibku” gumamnya sendiri seraya menarik nafas dalam-dalam. Dengan langkah berat ia meninggalkan kebun belakang menuju rumah.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, Eri melihat sebuah gudang yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Eri mendekati tempat itu, gudang tersebut tergembok. Rasa penasaran membuatnya enggan pergi. Ia mencari kawat kecil untuk membobol gembok, ternyata berhasil. Eri masuk kedalam gudang tua tersebut, “Ini terlalu bagus untuk ukuran sebuah gudang” ucapnya sambil meluaskan pandangan keseluruh ruangan. Tak ada barang-barang bekas atau debu menempel, ruangan ini bersih. Ada beberapa kursi dan bangku yang ditata rapi menghadap sebuah lukisan.
Di depan lukisan ada sebuah buku tebal dan tua. Dengan hati-hati Eri membuka lembaran demi lembaran. Hampir satu jam ia membaca buku tersebut, kakak tirinya sedang berada diluar kota jadi ia bisa leluasa ditempat terlarang ini. Setelah selesai membaca buku Eri pergi kebelakang gudang, “Benar seperti dugaanku” gumamnya sekali lagi. Jam ditangannya menunjukkan pukul 4 sore, ia harus bergegas membersihkan rumah.
Mendung hitam berjejal menggantung di awang rintik hujan pun kemudian berlomba jatuh ke bumi. Deru suara mesin mobil Siska memecah kesunyian malam itu, Eri mengintip dari balik tirai jendela lalu setengah berlari mengambil payung untuk menjemput kakaknya. “Ri tolong buatin susu hangat ya, aku mau mandi dulu. Capek banget hari ini jadwalnya padat” ucap Siska sambil merebahkan tubuh sintalnya ke sofa. Eri yang mendapat perintah hanya menganggukan kepala kemudian berlalu menuju dapur untuk membuat susu.
Susu hangat sudah berada di kamar ketika Siska masuk. Tak menunggu lama cairan berwarna putih tersebut langsung berpindah ke tenggorokannya. Dalam hitungan menit Siska sudah tak sadarkan diri terbaring di ranjang. “Sudah bereaksi ternyata obatnya, cepat juga” ucap Eri lirih. Dengan susah payah Eri memindahkan tubuh kakaknya menuju gudang belakang rumah. Semua sudah disiapkannya sejak dari tadi sore. Tubuh Siska kini terbaring disebuah bangku yang dikelilingi lilin, perlahan mata sayunya terbuka. Ia mendapati Eri di samping sambil membaca sebuah mantra dari buku tua.
“A a apa yang sedang kamu lakukan Ri?”
“Aku hanya melakukan seperti apa yang kakak lakukan”
“Apa maksudmu? Lepaskan aku Ri!, beraninya kamu mengikat tanganku seperti ini”
“Kamu pikir aku gak tau kalau semua ketenaran yang sedang kamu nikmati adalah hasil dari mengorbankan jiwa-jiwa yang tak berdosa itu?!. Aku selalu menuruti perintahmu, bahkan kau lebih menganggapku sebagai seorang pembantu daripada seorang adik. Kini giliranku untuk merasakan menjadi seorang artis seperti kamu!”.
“Maafkan aku Ri… Lepaskan aku…” pinta Siska memelas. Eri tak menggubris kakaknya yang terus mengiba. Diambilnya sebuah kapak dari sudut ruangan.
“Dengarkan aku Eri, ambilah semua yang kamu inginkan tapi jangan bunuh aku” air mata Siska mengalir semakin deras melihat adik tirinya mengangkat kapak tepat kearahnya.
“Sebentar lagi aku akan menggantikan ketenaranmu Kak, lebih baik kamu nikmati penderitaanmu di alam baka hahaha”.
Eri diam sesaat sambil membaca mantra kemudian Craaaasshh.
Sekali ayun kapak tepat mengenai leher Siska.
***


Seminggu sejak kejadian itu hari-hari yang dilalui Eri masih berjalan seperti biasa, sampai pada suatu sore 2 orang polisi datang menunjukkan surat perintah untuk menangkap dirinya. “Pak apa salah saya? bukan saya yang membunuh kak Siska. Lepaskan saya pak” Eri berulang-ulang mengucapkan kalimat itu tapi polisi tak menggubris dan tetap menyeretnya ke mobil.
Keesokan harinya, di halaman awal sebuah koran lokal memuat tulisan “Siska, Artis yang Sedang Naik Daun Tewas Dibunuh Adiknya Sendiri”. Begitu pula dengan televisi hampir semua chanel berlomba menampilkan berita tentang Eri. Kini Eri pun terkenal seperti kakaknya.

Selesai__25 November 2014.

Melisa Ripqi
Comments
0 Comments